Sejarah Desa

Asal Usul Desa

Masyarakat Simarmata sejak dahulu hidup berdampingan dengan alam dan menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian serta perikanan Danau Toba. Kehidupan masyarakat juga diatur oleh lembaga adat Bius Sitolu Tali, yang menjadi simbol persatuan sekaligus pedoman dalam menjaga ketertiban, budaya, dan keharmonisan masyarakat.

Memasuki masa pemerintahan modern, Desa Simarmata terus mengalami perkembangan. Pada tahun 1993, Desa Simarmata, Galungan, dan Sidaji resmi digabungkan menjadi satu wilayah administratif yang kini dikenal sebagai Desa Simarmata, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir.

Lokasi Bersejarah Desa Simarmata

Huta Adat Simarmata
Huta Adat Simarmata

Kawasan adat yang menjadi bagian penting dari sejarah dan budaya masyarakat Simarmata.

Selengkapnya
Rumah Adat Batak
Rumah Adat Batak

Warisan arsitektur tradisional Batak Toba yang memiliki nilai budaya tinggi.

Selengkapnya
Tugu Simarmata
Tugu Simarmata

Tugu Simarmata merupakan salah satu simbol sejarah dan identitas marga Simarmata yang menjadi pengingat asal-usul, silsilah, serta warisan budaya masyarakat Batak Toba di Desa Simarmata.

Selengkapnya
Sopo Ni Opung Sisaurmatua Simarmata
Sopo Ni Opung Sisaurmatua Simarmata

Sopo Ni Opung Sisaurmatua Simarmata merupakan situs adat warisan OP. JORLANG SIMARMATA yang menjadi simbol penghormatan kepada leluhur. Kawasan ini juga memiliki Mual Paridian, mata air bersejarah yang masih dijaga kesakralannya hingga saat ini.

Selengkapnya

Perjalanan Sejarah

Awal Permukiman

Awal pemukiman Desa Simarmata diperkirakan dimulai sekitar tahun 1600, ketika Simataraja Simarmata, putra ketiga Op. Tuan Binur, datang dari Huta Namoora Tahuan (Rianiate). Ia mendirikan sebuah rumah (bale-bale) di wilayah yang kemudian dikenal sebagai Simarmata, serta hidup dengan bertani dan menangkap ikan.

Simataraja Simarmata menikah dengan Boru Limbong dan memiliki tiga orang anak, yaitu Halihi Raja, Dosi Raja, dan Datuktuk Raja. Ketiga anaknya kemudian menggunakan marga Simarmata dan membentuk keluarga masing-masing.

Seiring bertambahnya keturunan, mereka membuka tiga perkampungan (huta), yaitu:

  • Huta Uruk (ditempati Halihi Raja)
  • Huta Toruan (ditempati Dosi Raja dan menjadi lokasi tugu Simataraja)
  • Huta Balian (ditempati Datuktuk Raja)

Ketiga huta tersebut kemudian dikenal sebagai Huta Simarmata dan menjadi cikal bakal berkembangnya Desa Simarmata.

Sistem Adat Bius Sitolu Tali

Untuk mengatur kehidupan masyarakat, dibentuk lembaga adat Bius Sitolu Tali, yang mencakup Huta Uruk, Huta Toruan, Huta Balian, serta Boru Bius Marga Sinaga. Kepemimpinan bius dipegang oleh Raja Jolo secara bergiliran berdasarkan garis keturunan Simataraja. Bius berfungsi menjaga ketertiban, kesejahteraan, pelaksanaan adat-istiadat, serta kepercayaan kepada Mula Jadi Na Bolon.

Masa Kolonial dan Perubahan Pemerintahan

Pada masa kolonial Belanda sekitar 1910, sistem pemerintahan adat mulai mengalami perubahan. Kekuasaan Raja Bius dikurangi dan diganti dengan sistem pemerintahan kolonial melalui Raja Ihutan. Selanjutnya pada 1913–1917, dibentuk pemerintahan Kepala Negeri dan Kepala Kampung. Wilayah Kenegerian Simarmata saat itu meliputi delapan kampung, yang kemudian berkembang menjadi beberapa desa, termasuk Desa Simarmata seperti yang dikenal sekarang.